BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS �

Minggu, 24 Oktober 2010

Perlunya Berbisnis dengan Etika

Sebenarnya, keberadaan etika bisnis tidak hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan “remeh” seperti, “Saya belanja Rp 50.000 tapi cuma ditagih Rp 45.000. Perlu nggak saya lapor?”, atau, “Bisakah saya melakukan tindakan tidak etis/melanggar hukum untuk meningkatkan kinerja divisi saya?”, atau, “Should I accept this gift or bribe that is being given to me to close a big deal for the company?“, atau, “Is this standard we physicians have adopted violating the Hippo-cratic oath and the value it places on human life?“, dan pertanyaan-pertanyaan serupa lainnya.

Sebuah studi selama 2 tahun yang dilakukan The Performance Group, sebuah konsorsium yang terdiri dari Volvo, Unilever, Monsanto, Imperial Chemical Industries, Deutsche Bank, Electrolux, dan Gerling, menemukan bahwa pengembangan produk yang ramah lingkungan dan peningkatan environmental compliance bisa menaikkan EPS (earning per share) perusahaan, mendongkrak profitability, dan menjamin kemudahan dalam mendapatkan kontrak atau persetujuan investasi.

Di tahun 1999, jurnal Business and Society Review menulis bahwa 300 perusahaan besar yang terbukti melakukan komitmen dengan publik yang berlandaskan pada kode etik akan meningkatkan market value added sampai dua-tiga kali daripada perusahaan lain yang tidak melakukan hal serupa.

Bukti lain, seperti riset yang dilakukan oleh DePaul University di tahun 1997, menemukan bahwa perusahaan yang merumuskan komitmen korporat mereka dalam menjalankan prinsip-prinsip etika memiliki kinerja finansial (berdasar penjualan tahunan/revenue) yang lebih bagus dari perusahaan lain yang tidak melakukan hal serupa.

· Kita Sebagai Pebisnis

Kasus yang paling gampang adalah Enron — yang begitu sering didiskusikan di ruang kuliah. Sebenarnya, Enron adalah perusahaan yang sangat bagus. Sebagai salah satu perusahaan yang menikmati booming industri energi di tahun 1990an, Enron sukses menyuplai energi ke pangsa pasar yang begitu besar dan memiliki jaringan yang luar biasa luas. Enron bahkan berhasil menyinergikan jalur transmisi energinya untuk jalur teknologi informasi.

Kalau dilihat dari siklus bisnisnya, Enron memiliki profitabilitas yang cukup menggiurkan. Seiring booming industri energi, Enron memosisikan dirinya sebagai energy merchants: membeli natural gas dengan harga murah, kemudian dikonversi dalam energi listrik, lalu dijual dengan mengambil profit yang lumayan dari markup sale of power atau biasa disebut “spark spread“.

Sebagai sebuah entitas bisnis, Enron pada awalnya adalah anggota pasar yang baik, mengikuti peraturan yang ada di pasar dengan sebagaimana mestinya. Pada akhirnya, Enron meninggalkan prestasi dan reputasi baik tersebut. Sebagai perusahaan Amerika terbesar ke delapan, Enron kemudian tersungkur kolaps pada tahun 2001. Tepat satu tahun setelah California energy crisis. Seleksi alam akhirnya berlaku. Perusahaan yang bagus akan mendapat reward, sementara yang buruk akan mendapat punishment. Termasuk juga pihak-pihak yang mendukung tercapainya hal tersebut — dalam hal ini Arthur Andersen.

Masyarakat akhirnya juga lebih aware terhadap pasar modal. Pemerintah pun juga makin hati-hati dalam melakukan pengawasan. Penyempurnaan terhadap sistem terus dilakukan. Salah satunya adalah lahirnya Sarbanes-Oxley Act. Akibat mendzolimi pelaku pasar lainnya, Enron akhirnya terkapar karena melakukan penipuan dan penyesatan. Pun bagi “Enron-wannabe” lainnya, perlu berpikir ulang dua-tiga kali untuk melakukan hal serupa. Memang benar. Kita tidak bisa berasumsi bahwa pasar atau dunia bisnis dipenuhi oleh orang-orang jujur, berhati mulia, dan bebas dari akal bulus serta kecurangan/manipulasi. Tetapi sungguh, tidak ada gunanya berbisnis dengan mengabaikan etika dan aspek spiritual. Biarlah pemerintah melakukan pengawasan, biarlah masyarakat memberikan penilaian, dan sistem pasar (dan sistem Tuhan tentunya) akan bekerja dengan sendirinya.

· Kita Sebagai Konsumen

Ini yang lebih penting.

Memang benar, tidak ada yang bisa menjadi produsen (atau konsumen) selamanya. Ada kalanya kita berada dalam posisi sebagai penjual dan ada kalanya kita sebagai pembeli. Saya sendiri, lebih sering berada dalam posisi sebagai konsumen — alih-alih sebagai seorang produsen.

Kembali ke kasus Morgan di atas, persaingan bisnis yang kian sengit memang mengakibatkan terdistorsinya batas-batas antara right-wrong atau good-bad. Lumrah sekali kita jumpai praktik bisnis yang menembus area abu-abu. Tidak jarang pula kampanye pemasaran begitu gencar digalakkan sehingga membuat kita bahkan tidak bisa mengenali diri kita sendiri. Kita “dipaksa” membeli barang yang kita tidak perlu. Kita “senang” mengonsumsi produk yang sebenarnya justru merusak diri kita. Kita “bahagia” memakai produk luar negeri sementara industri dalam negeri mulai kehabisan nafas.

Kompas beberapa waktu lalu pernah mengulas tentang gencarnya cengkeraman kapitalisme membelenggu negara-negara yang baru berkembang seperti Indonesia. Korbannya adalah masyarakat strata menengah dan masyarakat strata “agak bawah” yang “memaksakan diri” untuk masuk ke level yang lebih tinggi. Secara fundamental ekonomi, pengaruhnya jelas tidak baik karena ekonomi yang didasarkan pada tingkat konsumsi yang besar (apalagi dibiayai oleh utang) benar-benar rawan. Secara sosial, jelas fenomena ini akan menimbulkan pergeseran dan rentan terhadap benturan yang dampak turunannya sebenarnya cukup mengerikan. Maka tak perlu heran jika di jaman sekarang seorang anak kecil akan lebih faham kosakata “starbucks”, “breadtalk”, “orchard road”, “gucci”, daripada kosakata lain seperti “gudeg”, “bunaken”, “senggigi”, “ketoprak”, dan sebagainya. Kita secara tidak sadar mengkiblatkan diri pada produk/jasa yang sebenarnya tidak terlalu bagus — melainkan karena praktik pemasaran dan operasional bisnis yang seringkali melanggar batas-batas etika.

Sebenarnya tidak ada yang “salah” dengan kapitalisme. Kapitalisme, yang didasarkan pada perdagangan, disebut Adam Smith sejak lama sebagai kunci kemakmuran. Ide ini sudah dibuktikan secara empiris oleh para akademisi. Dengan adanya perdagangan, maka spesialisasi, penghargaan, kebersamaan, perdamaian, serta kemakmuran bisa tercapai. Yang salah adalah ketika kapitalisme dijalankan dengan melanggar etika sehingga menodai nilai-nilai murni perdagangan itu sendiri.

Belajar dari pengalaman Morgan, sebagai konsumen kita memang harus mulai belajar untuk aware terhadap praktik-praktik bisnis yang melanggar batas-batas etika. Karena pada akhirnya konsumen selalu berada dalam posisi yang dirugikan. Sementara produsen memiliki kesempatan berkelit yang lebih banyak. The winner takes all. Padahal, sebenarnya kita nggak perlu malu mengonsumsi tahu, tempe, atau daun singkong, sementara teman-teman kita makan di restoran fast food. Biarlah kita mengenakan produk dalam negeri sementara orang lain pakai Versace, Bvlgari, atau Luis Vuitton. Tidak ada yang akan menghukum kita hanya karena ponsel kita lebih lawas daripada milik rekan kita. Kita tidak perlu ganti mobil hanya karena tetangga kita barusan beli mobil baru. Kita juga tidak harus membeli rumah yang lebih besar sementara kita sendiri sebenarnya sudah cukup nyaman dengan rumah yang ada.

Dan percayalah. Tidak ada yang lebih tahu dan mengenal diri kita kecuali Tuhan dan diri kita sendiri.

sumber : http://nofieiman.com/2006/10/etika-bisnis-dan-bisnis-beretika/

Apa itu etika bisnis?

Kata "etika" dan "etis" tidak selalu dipakai dalam arti yang sama dan karena itu pula "etika bisnis" bisa berbeda artinya.

Etika sebagai praksis berarti : nilai-nilai dan norma-norma moral sejauh dipraktekkan atau justru tidak dipraktekkan, walaupun seharusnya dipraktekkan. Sedangkanetis, merupakansifat daritindakan yang sesuaidengan etika.

Peranan Etika dalam Bisnis :

Menurut Richard De George, bila perusahaan ingin sukses/berhasil memerlukan 3 hal pokok yaitu :
1. Produk yang baik
2. Managemen yang baik

3. Memiliki Etika

Selama perusahaan memiliki produk yang berkualitas dan berguna untuk masyarakat disamping itu dikelola dengan manajemen yang tepat dibidang produksi, finansial, sumberdaya manusia dan lain-lain tetapi tidak mempunyai etika, maka kekurangan ini cepat atau lambat akan menjadi batu sandungan bagi perusahaan tsb. Bisnis merupakan suatu unsur mutlak perlu dalam masyarakat modern. Tetapi kalau merupakan fenomena sosial yang begitu hakiki, bisnis tidak dapat dilepaskan dari aturan-aturan main yang selalu harus diterima dalam pergaulan sosial, termasuk juga aturan-aturan moral.

Mengapa bisnis harus berlaku etis ?

Tekanan kalimat ini ada pada kata "harus". Dengan kata lain, mengapa bisnis tidak bebas untuk berlaku etis atau tidak? Tentu saja secara faktual, telah berulang kali terjadi hal-hal yang tidak etis dalam kegiatan bisnis, dan hal ini tidak perlu disangkal, tetapi juga tidak perlu menjadi fokus perhatian kita. Pertanyaannya bukan tentang kenyataan faktual, melainkan tentang normativitas : seharusnya bagaimana dan apa yang menjadi dasar untuk keharusan itu.

Mengapa bisnis harus berlaku etis, sebetulnya sama dengan bertanya mengapa manusia pada umumnya harus berlaku etis. Bisnis disini hanya merupakan suatu bidang khusus dari kondisi manusia yang umum.

Jawabannya ada tiga yaitu :

1. Tuhan melalui agama/kepercayaan yang dianut, diharapkan setiap pebisnis akan dibimbing oleh iman kepercayaannya, dan menjadi tugas agama mengajak para pemeluknya untuk tetap berpegang pada motivasi moral.

2. Kontrak Sosial, umat manusia seolah-olah pernah mengadakan kontrak yang mewajibkan setiap anggotanya untuk berpegang pada norma-norma moral, dan kontrak ini mengikat kita sebagai manusia, sehingga tidak ada seorangpun yang bisa melepaskan diri daripadanya.

3. Keutamaan, Menurut Plato dan Aristoteles, manusia harus melakukan yang baik, justru karena hal itu baik. Yang baik mempunyai nilai intrinsik, artinya, yang baik adalah baik karena dirinya sendiri. Keutamaan sebagai disposisi tetap untuk melakukan yang baik, adalah penyempurnaan tertinggi dari kodrat manusia. Manusia yang berlaku etis adalah baik begitu saja, baik secara menyeluruh, bukan menurut aspek tertentu saja.

sumber : http://www.scribd.com/doc/18575776/ETIKA-BISNIS

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pemasaran merupakan salah satu dari kegiatan-kegiatan pokok yang dilakukan oleh para pengusaha dalam usahanya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, untuk berkembang dan untuk mendapatkan laba. Berhasil tidaknya dalam pencapaian tujuan bisnis tergantung kepada keahlian pengusaha dibidang pemasaran, produksi, keuangan maupun dibidang lain. Selain itu tergantung pula kemampuan pengusaha untuk mengkombinasikan fungsi-fungsi tersebut agar perusahaan dapat berjalan lancar.

Strategi pemasaran begitu penting dalam menentukan keberhasilan penjualan produk dari suatu perusahaan umumnya dan khususnya pada bidang bagian pemasaran. Strategi pemasaran juga harus memberikan gambaran yang cukup jelas dan mempunyai arah yang jelas agar dapat menggunakan setiap peluang dan panduan yang tepat sasaran pada beberapa peluang sasaran pasar yang akan dibidik.

Mengingat pentingnya strategi pemasaran produk dalam memperkenalkan produk dan memenangkan persaingan maka perusahaan harus dapat membuat strategi pemasaran produk yang efektif dan efisien sehingga dapat menarik para konsumen. Dalam penulisan ini toko yang dijadikan sebagai sumber data dalam penulisan adalah TOKO MASARO OTO BAN, RADIO DALAM, JAKARTA.

Untuk itu judul yang diberikan dalam penulisan Laporan Kerja Praktek ini adalah “STRATEGI PEMASARAN PRODUK VELG DAN BAN MOBIL PADA TOKO MASARO OTO BAN, RADIO DALAM, JAKARTA”

1.2 Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “bagaimanakah penerapan Strategi Pemasaran Produk Velg dan Ban Mobil Pada Toko Masaro Oto Ban?”.

1.3 Tujuan

Adapun tujuan adalah :

1. Mengetahui masalah yang dihadapi Toko Masaro Oto Ban dalam pemasaran produknya kepada konsumen.

2. Mengetahui cara penerapan strategi pemasaran produk yang digunakan oleh Toko Masaro Oto Ban.

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Kerangka Teori

2.1.1 Pengertian Pemasaran

Pemasaran merupakan salah satu bidang kegiatan yang cukup penting dalam perusahaan dimana dengan pemasaran akan menunjang keberhasilan tujuan perusahaan. Pemasaran sering diartikan dengan penjualan. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan definisi pemasaran menurut pendapat beberapa ahli:

1. Menurut Eva Zhoriva Yusuf dan Lesley Williams (2007,26), Pemasaran dalam pengertian luas adalah semua kegiatan yang dirancang untuk mendorong dan mengelola segala pertukaran untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan kita. Sedangkan dari perspektif bisnis yang lebih sempit pemasaran dapat didefinisikan sebagai sebuah keseluruhan system kegiatan bisnis yang dirancang untuk menyediakan sesuatu bagi kelompok, individu, atau organisasi yang memuaskan mereka, guna mencapai tujuan organisasi.

2. Menurut Basu Swastha Dharmmesta dan T. Hani Handoko (1982:4), Pemasaran adalah suatu sitem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial.

3. Menurut Wiliam J. Stanton (1984;10), Pemasaran adalah suatu system keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis ditujukan untuk mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli pontensial

2.2 Pengertian Bauran Pemasaran

Salah satu unsur dalam startegi pemasaran terpadu adalah strategi Marketing Mix atau bauran pemasaran yang merupakan strategi yang dijalankan perusahaan yang berkaitan dengan penentuan bagaiman perusahaan mangajukan penawaran produk pada sekmen tertentu yang merupakan pasar sasaran.

Menurut Basu Swastha(1996:42) : Bauran Pemasaran adalah Kombinasi dari empat variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistim pemasaran perusahaan.

Keempat variable strategi pemasaran adalah :

1. Produk

Produk merupakan elemen yang paling penting karena dengan produk perusahaan dapat memenuhi kebutuhan dari keinginan konsumen. Produk dapat dikatakan sebagai pemahaman yang bias ditawarkan sebagai usaha mencapai tujuan organisasi melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen seuai daya beli pasar.

2. Harga

Harga merupakan satu-satunya unsur dalam pemasaran yang memberikan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan sedangkan ketiga unsure lainnya ( produksi, promosi dan disrtibusi ) menyebabkan timbulnya biaya atau persaingan

3. Distribusi

Setelah produk dan harga selanjutnya adalah penetapan mengenai cara penyampaian produk tersebut kepada konsumen (pendistribusian). Sehingga pemilihan saluran distribusi dengan tepat akan mampu meningkatkan penjualan.

4. Promosi

Promosi merupakan salh satu factor paling penting penentu keberhasilan suatu kegiatan. Karena betapapun kualitasnya suatu pruduk bila kosumen belum pernah mendengarnya 3dan tidak yakin produk itu akan berguna bagi mereka,mereka tidak akan membelinya.

Keempat strategi diatas saling mempengaruhi sehingga semuanya penting sebagai satu kesatuan strategi yaitu strategi bauran pemasaran dalam menggunakan variabel-variabel pemasaran yang dapat dikendalikan oleh pimpinan perusahaan untuk mencapai tujuan pemasaran dalam bidang pemasaran.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Objek Penelitian

Objek dalam penelitian ini adalah pada Toko .Masaro Oto Ban, di JL.H.Nawi Raya No.7 Radio Dalam Jakarta Selatan.

3.2 Data / Variabel Yang Digunakan

Data yang digunakan dalam penyusunan penulisan ilmiah ini adalah data primer dan data sekunder, data primer diperoleh langsung dari perusahaan, dan data sekunder diperoleh melalui buku bacaan yang ada hubungannya dengan materi penelitian ini.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpuan data yang digunakan penulis yaitu dengan cara sebagai berikut:

1. Studi Lapangan

Untuk memperoleh data yang lengkap penulis berusaha mendatangi secara langsung ke objek penelitian dengan mengadakan :

a. Observasi yaitu mengadakan pengamatan secara langsung ditempat penelitian dan mengamati aktivitasnya.

b. Wawancara yaitu melakukan wawancara langsung dengan sumber data dan informasi, seperti sekretaris atau pihak-pihak yang berhubungan dengan masalah yang di bahas.

2. Studi pustaka

Penulis membaca buku-buku referensi, dan catatan yang berhubungan dengan materi penelitian ini.


Minggu, 03 Oktober 2010

Review Jurnal

Nama : Eka Purnamasari

Kelas : 4Ea03

Npm : 10207382



Tugas Riset Pemasaran (Review Jurnal)

1. Tema/Topik : Strategi Pemasaran


2. Judul, Pengarang, & Tahun

1. Judul : Analisis Strategi Pemasaran Daging Sapi pada CV. Duta Mandiri Abadi

Nama : Hakiki Sirait, W H Limbong, . Suryahadi
Tahun : 2007

2. Judul : Analisis Strategi Pemasaran Produk Nata De Coco (Studi Kasus di CV. Graha Agri Industri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat)

Nama : R Pratikto Miliyoso, Illah Sailah, Ani Suryani
Tahun : 2007

3. Judul : STRATEGI PEMASARAN PRODUK KLIP DALAM PASAR PERSAINGAN KETAT ( Suatu Studi Kasus di PT. MEMO Manufacturing Indonesia )

Nama : CAHYADI, IWAN FAHRI

Tahun : 1996



3. Latar Belakang & Masalah
Dalam hal ini yang dimaksud dengan pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun kepada pembeli yang potensial. Strategi pemasaran begitu penting dalam menentukan keberhasilan penjualan produk dari suatu perusahaan umumnya dan khususnya pada bidang bagian pemasaran. Strategi pemasaran juga harus memberikan gambaran yang cukup jelas dan mempunyai arah yang jelas agar dapat menggunakan setiap peluang dan panduan yang tepat sasaran pada beberapa peluang sasaran pasar yang akan dibidik. Mengingat pentingnya strategi pemasaran produk dalam memperkenalkan produk dan memenangkan persaingan maka perusahaan harus dapat membuat strategi pemasaran produk yang efektif dan efisien sehingga dapat menarik para konsumen. Dalam penulisan ini toko yang dijadikan sebagai sumber data dalam penulisan adalah TOKO MASARO OTO BAN, RADIO DALAM, JAKARTA.

Untuk itu judul yang diberikan dalam penulisan Laporan Kerja Praktek ini adalah “STRATEGI PEMASARAN PRODUK VELG DAN BAN MOBIL PADA TOKO MASARO OTO BAN, RADIO DALAM, JAKARTA”

4. Metodelogi
a. Data atau Variabel
Metode pengumpulan data dilakukan dengan survei langsung atas proses penyediaan bahan baku, proses produksi, distribusi, serta wawancara dengan pihak manajemen perusahaan, baik dengan manajemen tingkat fungsional dan juga dengan pemilik perusahaan, yang diwakili oleh direktur utama mereka dan eksekutif pemasaran.

b. Model
Data Penjualan

Periode 2006-2009

(Dalam Jutaan Rupiah)

Tahun

Data Penjualan (Ban)

Data Penjualan (Velg)

Data Penjualan (Total)

2006

105

245

350

2007

158

367

525

2008

227

528

755

2009

286

669

955

Total

776

1,809

2,585

Sumber : Toko Masaro Oto Ban


c. Tahapan

5. Hasil & Kesimpulan
> Hasil & Kesimpulan Jurnal 1 Berdasarkan analisis integritas SWOT, strategi yang efektif harus dilakukan oleh perusahaan adalah memperluas dan mempertahankan pasar yang ada, mempertahankan nilai jual produk di pasar, menjaga komitmen manajemen atas kualitas produk dan mensosialisasikannya atas seluruh karyawan, meningkatkan kinerja divisi pemasaran dalam menganalisis permintaan pasar serta optimalisasi kapasitas produksi yang ada. Untuk meningkatkan bisnis di masa depan perlu adanya komitmen dari pihak manajemen untuk mengubah dan merevisi kondisi internal yang ada.
> Hasil & Kesimpulan Jurnal 2 : Berdasarkan analisis CPM itu bisa dikategorikan bahwa CV Graha Agri Industri adalah sebuah perusahaan dengan nilai tertinggi (3,10) dibandingkan dengan CV Tunas Sari (2,86) dan CV Citako (2,15). Sesuai dengan posisi perusahaan dalam matriks IE (dimiliki dan mempertahankan posisinya), strategi prioritas adalah pengembangan produk yang sesuai dengan keinginan dan peluang pasar diversifikasi, juga diversifikasi untuk produk baru

> Hasil & Kesimpulan Jurnal 3 : Hasil analisis regresi menggunakan uji F Artikel Baru Artikel Baru a = 0,05, bahwa seluruh variabel diperoleh ¬ Inde penden (Persepsi responden terhadap Nilai Produk, harga, promosi dan distribusi) signifikan terhadap Pembelian volume. Sedangkan berdasarkan uji t a = 0,05 Artikel Baru dihasilkan bahwa Persepsi responden terhadap Nilai promo ¬ si dan distribusi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pembelian volume.

> Hasil & Kesimpulan peneliti : Secara keseluruhan Strategi pemasaran begitu penting dalam menentukan keberhasilan penjualan produk dari suatu perusahaan umumnya dan khususnya pada bidang bagian pemasaran.

6. Saran untuk lanjutan
Untuk lebih dapat meningkatkan penjualan produknya, sebaiknya perusahaan perlu meningkatkan kapasitas produksi, meningkatkan diversivikasi produk, kualitas produk dan lain-lain. Untuk setiap penelitian diharapkan dapat menambah variabel-variabel bauran pemasaran, sehingga kita dapat mengetahui bukan hanya 4 variabel saja yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian, tetapi masih terdapat variabel-variabel lain yang mempengaruhi.

sumber :

http://medpet.journal.ipb.ac.id/index.php/jurnalmpi/article/view/899/0

http://jagb.journal.ipb.ac.id/index.php/jurnalmpi/article/view/894

http://eprints.undip.ac.id/9195/

Rabu, 02 Juni 2010

Referensi

Dewasa ini pemasaran telah berkembang demikian pesatnya dan menjadi ujung tombak setiap perusahaan dalam rangka mencapai tujuan.Hal ini dipertegas dengan pendapat seorang bengawan pemasaran Theodore Levitt yang menyatakan bahwa "kunci manajemen bisnis yang sukses terletak pada pemasaran".Oleh karena itu pilihan dan penerapan strategi pemasaran sangatlah essensial bagi setiap perusahaan.
Buku ini membahas berbagai unsur strategi pemasaran,meliputi konsep dan perkembangannya, strategi kepuasan pelanggan,strategi pasar,strategi marketing mix,strategi pemasaran dalam PLC,strategi pemasaran internasional.
Buku ini sangat bermanfaat bagi para mahasiswa, dosen, praktisi, maupun siapa saja yang menaruh perhatian pada pemasaran.

Strategi Pemasaran oleh Fandy Tjiptono- Ed.II, Cet.6 - Yogyakarta: Andi,2002

Selasa, 01 Juni 2010

Penalaran Induktif

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Metode penalaran induktif adalah adalah suatu penalaran yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.
> Jenis-jenis penalaran induktif adalah :
Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum.
• Tamara Bleszynski adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.
• Nia Ramadhani adalah bintang iklan, dan ia berparas cantik.
Generalisasi: Semua bintang sinetron berparas cantik.
Pernyataan “semua bintang sinetron berparas cantik” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.
>Contoh kesalahannya:
Omas juga bintang iklan, tetapi tidak berparas cantik.
Macam-macam generalisasi
Generalisasi sempurna
Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.
Contoh: sensus penduduk
Generalisasi tidak sempurna
Adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.
Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantalon.
Prosedur pengujian generalisasi tidak sempurna
Generalisasi yang tidak sempurna juga dapat menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur pengujian yang benar.
Prosedur pengujian atas generalisasi tersebut adalah:
1. Jumlah sampel yang diteliti terwakili.
2. Sampel harus bervariasi.
3. Mempertimbangkan hal-hal yang menyimpang dari fenomena umum/ tidak umum.
Kausalitas
Kausalitas merupakan perinsip sebab-akibat yang dharuri dan pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.
Analogi
Analogi dalam ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk yang lain. Analogi merupakan salah satu proses morfologi dimana dalam analogi, pembentukan kata baru dari kata yang telah ada. Contohnya pada kata dewa-dewi, putra-putri, pemuda-pemudi, dan karyawan-karyawati.
Salah Nalar
Salah nalar adalah kesalahan struktur atau proses formal penalaran dalam menurunkan kesimpulan sehingga kesimpulan tersebut menjadi tidak valid. Jadi berdasarkan pengertian tersebut, salah nalar bisa terjadi apabila pengambilan kesimpulan tidak didasarkan pada kaidah-kaidah penalaran yang valid. Terdapat beberapa bentuk salah nalar yang sering kita jumpai, yaitu: menegaskan konsekuen, menyangkal antiseden, pentaksaan, perampatan-lebih, parsialitas, pembuktian analogis, perancuan urutan kejadian dengan penyebaban, serta pengambilan konklusi pasangan.
Sumber : http://utlia.wordpress.com/2010/02/26/penalaran-induktif/

Minggu, 09 Mei 2010

BAB 1
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Pemasaran merupakan salah satu dari kegiatan-kegiatan pokok yang dilakukan oleh para pengusaha dalam usahanya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, untuk berkembang dan untuk mendapatkan laba. Berhasil tidaknya dalam pencapaian tujuan bisnis tergantung kepada keahlian pengusaha dibidang pemasaran, produksi, keuangan maupun dibidang lain. Selain itu tergantung pula kemampuan pengusaha untuk mengkombinasikan fungsi-fungsi tersebut agar perusahaan dapat berjalan lancar.
Dalam hal ini yang dimaksud dengan pemasaran adalah :Suatu sistem keseluruhan dari kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun kepada pembeli yang potensial.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa pemasaran adalah suatu sistem dari kegiatan-kegiatan yang merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa kepada kelompok pembeli.Perusahaan harus memadukan keputusan-keputusan pemasarannya dengan fungsi pemasaran yang lain. Biasanya bagian pemasaran mengkoordinasikan tugas-tugas pada bagian dalam perusahaan secara informal. Hal ini menyebabkan semakin pentingnya bagian pemasaran bagi perusahaan.


Suatu produk yang telah berhasil diproduksi biasanya membutuhkan jasa distribusi untuk memasarkannya. Produk yang telah dihasilkan tersebut tidak bisa mencari konsumen sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan strategi pemasaran yang tepat agar suatu produk sukses dipasarkan di market.


1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh strategi pemasaran terhadap volume penjualan di bidang jual beli velg dan ban mobil.

1.3 Batasan Masalah
Sehubung dengan luasnya masalah yang terjadi pada strategi pemasaran, maka penulis membatasi masalah pada pengaruh strategi pemasaran terhadap volume penjualan.

1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar tingkat volume penjualan terhadap pengaruh strategi pemasaran di bidang jual beli velg dan ban mobil.

1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan ini semoga bermanfaat positif bagi penulis sendiri, orang lain, maupun pihak lain.




1. Manfaat Akademis
Penelitian ini berhubungan dengan mata kuiah manajemen pemasaran, sehingga diharapkan penulis dan pihak yang berkepentingan lebih memahaminya.
2. Manfaat Praktis
Penulis mampu mengidentifikasikan suatu masalah terhadap volume penjualan pada jual beli veleg dan ban mobil. Sehingga diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan oleh pihak yang berkepentingan khususnya pelanggan.
3. Bagi pihak lain atau masyarakat.
Dapat dijadikan sebagai sumber informasi dalam rangka memperluas wawasan pengetahuan.

1.6 Metode Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, penulis akan menjelaskan dan menguraikan metode penelitian yang akan digunakan .


1.6.1 Data / Variabel yang digunakan
Dalam penelitian ini penulis akan mengambil sample pelanggan yang membeli velg atau ban sebanyak 50 sampel. Kemudian mendeskripsikannya dengan membuat Diagram Cartesius.



1.6.2 Metode pengumpulan data / variable
Metode pengumpulan data yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah data primer yang dapat dilakukan dengan cara membagikan kuesioner ke setiap responden yang melakukan jual beli velg dan ban mobil.